Nahrisyah memimpin Samudra Pasai sekitar 200 tahun sebelum Sultanah Sri Ratu Safiatuddin memimpin kerajaan Aceh.

Mengenal Sultanah Nahrisyah, Ratu Pertama Asia Tenggara dari Aceh

Makam Ratu Nahrisyah di Geudong, Aceh Utara | Pintoe.co

PINTOE.CO - Berdiri di depan sebuah makam,  orientalis Belanda Snouck   Hurgronje berdecak kagum. Menurutnya, makam yang terbuat dari marmer di hadapannya itu adalah yang terindah yang pernah dilihatnya di Asia Tenggara.

Momen itu diceritakan Snouck pada 23 Januari 1907, dalam pidato pengukuhannya  sebagai guru besar di Universitas Leiden, Belanda. Cerita itu dituangkan dalam bukunya   Arabie en Oost-Indie (Arab dan Hindia Timur) yang diterbitkan di Leiden pada 1907.

Terletak di  bekas Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara, makam yang menyita perhatian Snouck itu memuat jasad Sultanah Nahrisyah. Jika merujuk pada silsilah di kompleks makam, Nahrisyah adalah keturunan Sultan Malikussaleh yang memimpin Samudra Pasai  pada tahun 1405-1428 M. Ayahnya adalah Sultan Zainal Abidin.  


Silsilah Ratu Nahrisyah di komplek makam di Geudong, Aceh Utara

Nahrisyah dikenal  sebagai seorang yang arif dan bijaksana, laksana seorang ibu yang selalu mengedepankan kasih sayang.  Harkat dan martabat perempuan begitu mulia sehingga banyak yang menjadi penyiar agama pada masa pemerintahannya.

Para ahli sejarah meyakini Sultanah Nahrisyah adalah pemimpin perempuan pertama di Asia Tenggara. Dia menjadi ratu sekitar 200 tahun sebelum Sultanah Sri Ratu Safiatuddin memimpin kerajaan Aceh.

Beberapa referensi menyebutkan, Nahrisyah naik tahta setelah mengalahkan kerajaan Nakur yang menyerang Samudra Pasai.

Dalam pertempuran pertama, suami Nahrisyah tewas. Ia pun kemudian bersumpah di hadapan rakyatnya.

“Siapapun yang dapat membunuh Raja Nakur, saya bersedia untuk menikah dengannya dan memerintah kerajaan ini bersama suami saya tersebut.”

Seorang pejabat Panglima Laot kerajaan bernama Salahuddin, bersedia mengemban tugas tersebut. Salahuddin berhasil membunuh raja Nakur. Sri Ratu kemudian menepati janjinya menikah dengan pembunuh Raja Nakur.

Dua tahun setelah pernikahannya, Sri Ratu mengutus Salahuddin untuk mengirim hadiah kepada Kaisar Cina, Cheng Tsu, pada 1411 M. Namun Salahuddin dibunuh oleh anak tirinya, putra Sri Ratu dari suami pertama, saat kembali ke kerajaan Samudera Pasai seperti ditulis dalam buku China ‘Ying Yal Cheng Chu’.

Kunjungan Salahuddin ke Cina mendapat balasan. Laksamana Cheng Ho diutus untuk memberikan hadiah lonceng besar Cakra Donya dari sang Kaisar pada 1415 M.

Kerajaan Samudra Pasai disatukan dengan Aceh Raya Darussalam oleh Sulthan Ali Mughayatsyah, tahun 1530 M.

Selain Snouck, peneliti Belanda lainnya yang menulis kebesaran Ratu Nahrisyah adalah JP Moquette.Dia menulis buku De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan, diterbitkan dalam Tijdschrift Voor Indishe Taal Land-en Volkenkunde, Deel LIV, 1921.

JP Moquette lah yang kemudian menghitung penanggalan meninggalnya  Ratu Nahrisiyah dalam tahun Masehi berdasarkan penanggalan Hijriyah yang tertera di makamnya.



Jejak kepemimpinan Nahrisyah bisa ditelusuri di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera, sekitar 18  kilometer di  timur Kota Lhokseumawe. Di sana, jasadnya terkubur dalam makam yang indah, seperti kesaksian Snouck. Makam itu letaknya tidak jauh dari komplek makam Sultan Malikussaleh, pendiri kerajaan Samudra Pasai.

Di batu nisannya terpahat kaligrafi Surah Yasin. Disamping itu tercantum pula ayat Kursi, Surat Ali Imran ayat 18 19, Surat Al-Baqarah ayat 285-286.



Ada pula kalimat dalam aksara Arab yang artinya: "Inilah pembaringan yang bercahaya lagi bersih bagi ratu yang dipertuan agung, yang dirahmati lagi diampuni Nahrasyiyah yang digelar dengan Ra-Bakhsya Khadiyu (penguasa yang pemurah) binti sultan yang berbahagia lagi syahid Zainal ‘Abidin bin Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih. Semoga ke atasnya dan ke atas mereka semua dilimpahkan rahmat dan keampunan. Ia meninggalkan negeri yang fana menuju sisi rahmat Allah pada tanggal hari Senin 17 bulan Zulhijjah 831 dari Hijriyah." []

nahrisyah tokohperempuan perempuanaceh samudrapasai beritaaceh pinto