Indonesia Masuk Jajaran Teratas Negara Paling Cepat Tenggelam di Dunia
Studi ini menyatakan 33 kota pesisir ditemukan tenggelam lima kali lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut.

Permukiman penduduk terkepung air laut akibat abrasi di Desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (14/3/2019) I Foto: ANTARA/Aji Styawan
PINTOE.CO - Indonesia masuk peringkat kedua dari lima negara yang memiliki tingkat penurunan tanah terluas di dunia sementara China berada di posisi pertama.
Studi terbaru Geophysical Research Letters menyebutkan China sudah mengalami penurunan tanah dengan luas lebih dari 1.043 km², Indonesia 844 km², Iran 791 km², India 672 km², dan Pakistan 374 km².
Negara dengan dampak populasi terbesar diduduki oleh India dengan lebih dari 633 juta orang, disusul China (368 juta orang), Indonesia (213 juta orang), Pakistan (145 juta orang), dan Bangladesh (137 juta orang).
Studi ini menyatakan 33 kota pesisir ditemukan tenggelam lima kali lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut.
Masalah ini sangat parah di beberapa bagian Asia. Kota-kota seperti Manila di Filipina, Karachi di Pakistan, dan Tianjin di China tenggelam 10 hingga 20 kali lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut.
Hampir setengah dari kota-kota besar di China tenggelam karena beban infrastruktur dan akibat eksploitasi air tanah.
Penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa 45 persen dari 82 kota di China mengalami penurunan permukaan tanah lebih dari 3 milimeter setiap tahunnya. Ini berpotensi berdampak pada 29 persen populasi perkotaan di negara itu.
Pada tahun 2120, antara 22-26 persen daratan pesisir di China diperkirakan akan berada di bawah permukaan laut.
Studi tersebut menemukan sekitar 1.043 kilometer persegi daratan China mengalami penurunan tanah lebih dari 5 milimeter per tahun.
Indonesia berada di urutan kedua dengan tingkat penurunan serupa seluas 844 kilometer persegi. Wilayah Semarang bahkan disebut mengalami penurunan tanah mencapai 20-30 milimeter per tahun.
Mengutip laman World Economic Forum, penduduk kota yang tenggelam kemungkinan besar akan menghadapi masalah yang parah. Penurunan permukaan tanah dapat mengakibatkan hilangnya tanah secara signifikan, ketidakamanan air, kerusakan infrastruktur, dan pemindahan penduduk.
Di Indonesia, pemerintah telah memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara di pulau Kalimantan karena kekhawatiran tersebut.
Solusi untuk penurunan muka tanah akan membutuhkan beberapa langkah, mulai dari evaluasi ulang terhadap penggunaan air dan infrastruktur hingga upaya cerdas untuk membangun ketahanan dalam perencanaan dan desain kota.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto disebut berencana membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall yang membentang dari pesisir Banten hingga Jawa Timur untuk mencegah kawasan pesisir utara tenggalam.
Hal tersebut diungkapkan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hidup Hashim Djojohadikusumo usai melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Hashim mengatakan proyek tanggul laut raksasa itu harus segera dimulai. Pasalnya, ada ancaman sawah-sawah di pantai utara (pantura) Pulau Jawa akan tenggelam.
"Program Pak Prabowo adalah kita bikin tanggul laut raksasa dari Banten sampai ke Jawa Timur. Program ini mungkin memakan waktu 20 tahun. Mungkin dua atau tiga presiden yang melaksanakan. Tapi harus mulai sekarang," ujar adik Prabowo itu di Kantor AHY, Kamis, 31 Oktober 2024, dikutip dari CNN Indonesia.[]
Editor: Lia Dali