Sejarah Aceh 3 Juni: Berpulangnya Hasan Tiro, Lelaki yang Memprotes Jakarta Sejak Usia 29 Tahun
Mochtar Loebis seperti baru saja menemui kisah tragis: seorang anak muda yang dipaksa oleh keadaan untuk melepaskan diri dari negara yang ikut dibangunnya,

Hasan Tiro muda bersama Ummi Potjut Fatimah. | Foto: Ist
PINTOE.CO - Senin, 13 September 1954. Media kenamaan Amerika Serikat, New York Times, memuat sepucuk surat di halaman 22, tepatnya di rubrik Letter to The Times. Ini semacam Surat Pembaca kalau di koran-koran Indonesia.
Surat itu diberi judul "Fight Waged by the Anti-Communist Forces Is Described".
Dalam surat itu, penulis menyebut dirinya sebagai "juru bicara kekuatan anti-komunis di Amerika Serikat yang melancarkan perang perlawanan terhadap rezim Sastroamidjojo yang didominasi Komunis di Jakarta."
Penulisnya bernama Hasan Muhammad Tiro, kelak lebih dikenal dengan nama Hasan Tiro. Saat surat itu dibuat, usianya tepat 29 tahun.
Dalam surat itu, Hasan Tiro menyebut rezim Ali Sastroamidjojo sebagai rezim komunis yang mengirim tentara ke daerah-daerah, termasuk Aceh, untuk memadamkan "pemberontakan" Darul Islam.
Surat protes Hasan Tiro yang dimuat New York Times pada 13 September 1954 | Arsip New York Times
Hasan Tiro adalah anak didik Teungku Daud Beureueh yang memimpin perlawanan terhadap Pemerintah Pusat dengan mendeklarasikan Aceh sebagai bagian dari Darul Islam yang memperjuangkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada 20 September 1953, setahun sebelum Hasan Tiro menulis surat yang menggemparkan itu.
Saat menulis surat itu, pria asal Tanjong Bungong, Pidie, kelahiran 25 September 1925 itu sedang melanjutkan kuliah hukum di Amerika Serikat usai menamatkan S1 di Universitas Islam Indonesia, Yokyakarta.
Di Amerika, pria yang pernah menjadi staf Wakil Perdana Menteri II Syafruddin Prawiranegara itu bekerja paruh waktu di Perwakilan Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Tentang sosok Hasan Tiro muda pernah ditulis oleh wartawan kawakan Mochtar Loebis dalam bukunya "Indonesia di Mata Dunia dan Goresan-goresan Perjalanan" yang terbit tahun 1960.
Pada suatu hari di tahun 1954, setelah surat Hasan Tiro dimuat di New York Times, Mochtar Loebis menemuinya di bawah guyuran hujan di New York. Mochtar Lubis mendeskripsikan Hasan Tiro sebagai "pemuda beraut muka manis dengan rambut disisir licin-licin”.
Dalam percakapan di ruangan seluas tiga kali tiga meter persegi di sebuah gedung di Fifth Avenue, Hasan Tiro terang-terangan mengungkapkan ketidaksepakatannya terhadap kebijakan Kabinet Ali Sastroamijoyo yang ia sebut telah mengirim tentara untuk melakukan kekejaman-kekejaman terhadap rakyat Aceh.
“Jika kami berdiam diri, kami habis dibunuh semua,” katanya.
“Mengapa saudara memproklamirkan Negara Islam Indonesia? Mengapa tidak protes secara lain?” tanya Mochtar.
Hasan Tiro menyebut semua cara konstitusional sudah menemui jalan buntu. Protes-protes dari anggota parlemen Aceh tidak digubris pemerintah. Melalui pers, hasilnya sama saja.
“Jadi kalau cara-cara konstitusional sudah jalan buntu, maka tak ada jalan lain selain berkelahi. Kami berjuang dengan nama Negara Islam Indonesia ialah untuk memberikan dasar yang lebih kuat bagi protes itu. Dengan memakai nama ini, protes kami akan lebih didengar orang di dalam dan di luar negeri,” tuturnya.
Ketika meninggalkan gedung di Fifth Avenue itu, Mochtar Loebis seperti baru saja menemui kisah tragis: seorang anak muda yang dipaksa oleh keadaan untuk melepaskan diri dari negara yang ikut dibangunnya, “dan sekarang berdiri berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri, teman-teman seperjuangannya dahulu dalam masa revolusi”.
Teungku Hasan Tiro
***
Di Jakarta, surat Hasan Tiro yang dimuat New York Times itu membuat Ali Sastroamidjojo berang. Pasalnya, surat itu dimuat ulang sebagai bahan pemberitaan oleh sejumlah media di tanah air. Yang terjadi berikutnya, Ali Sastroamidjojo mencabut paspor diplomasi Hasan Tiro.
Namun, itu tak menghentikan perlawanannya terhadap Pemerintah Pusat. Dalam surat berikutnya tanggal 26 September 1954 yang dimuat New York Times pada 30 September 1954, Hasan Tiro menyebut dirinya sebagai "Minister Plenypotentiary, Islamic Republic of Indonesia". Menteri Berkuasa Penuh Republik Islam Indonesia.
Di surat kedua ini, Hasan Tiro membantah keras tudingan Ali yang menyebut Darul Islam sebagai teroris.
Pada 1958, Hasan Tiro menulis buku "Demokrasi untuk Indonesia" yang menawarkan konsep federasi ala Amerika Serikat untuk Indonesia.
Dari luar negeri, Hasan Tiro terus berkampanye melawan pemerintah Pusat yang disebutnya telah bertindak tidak adil terhadap Aceh.
Sejarawan Belanda, Cornelis Van Dijk, (Burham:1961) menyebut Hasan Tiro sebagai "seorang yang memiliki inteligen tinggi, berpendidikan baik, yang diberkahi dengan kombinasi yang jarang terjadi pada orang kebanyakan, yakni pesona dan keteguhan hati."
Setelah Teungku Daud Beureueh turun gunung pada 9 Mei 1962, Hasan Tiro memilih melanjutkan perlawanannya dari luar negeri. Pada 30 Oktober 1976, meninggalkan istri dan anak tunggalnya di Amerika, dia pulang ke Aceh dan mendeklarasikan gerakan perlawanan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976. Saat itu, usianya sudah 51 tahun.
Sejak itu, Hasan Tiro menjadi buronan. Tentara pemerintah memasang plamplet di mana-mana berisi wajah Hasan Tiro dan pengikutnya, dilengkapi seruan menangkapnya hidup atau mati.
Tiga tahun bergerilya memimpin pasukannya dari satu hutan ke hutan lain di Aceh, pada 28 Maret 1979, Hasan Tiro meninggalkan Aceh melalui sebuah pelabuhan kecil di pesisir Jeunieb, Bireuen. Ia kembali ke Amerika Serikat, hingga akhirnya menetap di Alby, Norsborg, Swedia.
Memimpin pemerontakan GAM dari luar negeri, pada akhir 1980-an, Hasan Tiro sempat mengirimkan sejumlah pemuda Aceh untuk latihan militer di Kamp Tanjura, Libya. Mereka inilah yang kelak menjadi pemimpin kelompok-kelompok kecil gerilyawan GAM. Salah satunya adalah Muzakir Manaf, mantan Panglima GAM yang kini menjabat Ketua Partai Aceh.
Bencana tsunami yang memporak-porakkan Aceh pada 26 Desember 2004, mendorong Pemerintah Indonesia dan GAM sepakat menandatangani perjanjian damai yang diteken di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005.
Perjanjian damai itu melahirkan otonomi khusus untuk Aceh yang diundangkan dalam bentuk Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006. Gerilyawan GAM kemudian beralih mendirikan partai politik lokal. Aceh mendapat bagi hasil migas dalam porsi yang lebih besar dari sebelumnya. Aceh juga mendapat alokasi Dana Otonomi Khusus dari Pusat hingga 2027.
HasanTiro (kanan) bertemu Yusuf Kalla di Jakarta saat kepulangannya ke Aceh pada Oktober 2008 | Foto: Tempo.co
Usai damai, Hasan Tiro pulang ke Aceh pada 11 Oktober 2008. Kepulangannya tak langsung ke Aceh, melainkan singgah di Malaysia beberapa hari. Penulis bersama dua wartawan dari Aceh sempat menemuinya di Hotel Concord Shah Alam, Malaysia. Dalam pertemuan itu, Hasan Tiro yang tak lagi lancar berbicara lantaran pernah terserang stroke, berpesan agar orang Aceh "bek tuwoe keu seujarah". Jangan melupakan sejarah.
Penulis bersama Teungku Hasan di Tiro menjelang kepulangan perdananya ke Aceh usai RI - GAM menandatangani kesepakatan damai | Foto: Dok.Pribadi
Di Banda Aceh, kepulangannya disambut puluhan ribu orang yang datang dari berbagai dari berbagai kabupaten/kota. Saat berpidato di Masjid Raya Baiturrahman, Hasan Tiro yang sudah sepuh meminta masyarakat Aceh menjaga perdamaian.
“Biaya perang mahal, biaya memelihara perdamaian juga lebih mahal. Maka dari itu, peliharalah damai untuk kesejahteraan kita semua,” kata Hasan Tiro dalam pesan yang dibacakan Malik Mahmud.
Setelah itu, Hasan Tiro sempat kembali ke Swedia, sebelum kembali pulang ke Aceh.
Pada 3 Juni 2010, lelaki yang mendedikasikan lebih dari separuh usianya untuk memperjuang hak-hak Aceh itu meninggal dunia di Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh, dalam usia 84 tahun. Jasadnya dikuburnya di sebelah makam leluhurnya, Pahlawan Nasional dari Aceh, Tgk Chik Di Tiro, di Meureu, Kecamatan Indrapuri Aceh Besar.[]
Baca juga:
Ketika Hasan Tiro Kalah Berkelahi